Pages

Labels

Sabtu, 22 November 2014

Etika pedagang Muslim

 
Sejarah masuknya agam Islam ke Indonesia sungguhlah menakjubkan. Nenek moyang kita beragamakan Hindu dan Budha dan di bawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu Budha pula. Meski demikian, semua itu tidak dapat menghadang laju pergerakan para penyebar syi'ar Islam. Fakta sejarah ini semakin unik karena nenek moyang kita memeluk agam Islam dengan suka rela tanpa paksaan dan iming-iming materi. Keputusan berani mereka ini tentu beresiko berat, karena pastilah mereka berhadapan dengan para penguasa dan pemuka masyarakat mereka (Hindu-Budha). Anda bisa bayangkan kira-kira bagaimana sikap para pendeta, biksu, dan pemuka agama Hindu-Budha tatkala mengetahui pilihan masyarakatnya.

Apakah anda tahu, siapa tokoh penyebar agama Islam di Indonesia dan apa pekerjaan mereka sehingga mereka berhasil mengislamkan nenek moyang kita sampai agama islam diajarkan pada kita saat ini?

Mereka adalah para pedagang muslim yang singgah di berbagai pelabuhan nusantara, lalu berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Fakta ini mungkin cukup mengherankan anda, terlebih jika dibandingkan dengan kemajuan dakwah penyebaran syi'ar Islam di zaman sekarang. Dengan berbagai kemudahan dan fasilitas yang ada, para penjuru dakwah sekarang belum kuasa mengukir sejarah segemilang yang ditorehkan para pedagang kala itu.

Melalui tulisan sederhana ini, saya mengajak anda untuk mengenal sejauh manakah keluhuran perilaku pedagang muslim sehingga begitu memikat simpati masyarakat, terutama masyarakat nusantara. Dengan mengetahui berbagai etika dan adab pengusaha muslim semoga kita dapat merintis kembali sejarah emas tersebut. Berikut berbagai etika para pedagang muslim:

1. Ketulusan Niat

Niat menjadi dasar pembangkit segala bentuk tindakan. Bila niat anda tulus, niscaya niat ini akan terpancar dengan ucapan dan tindakan anda. Pedagang muslim menjalankan perniagaan-nya dalam rangka menjaga kehormatan dirinya sehingga tidak merendahkan diri dengan meminta-minta. Dengan berniaga maka keluhuran jiwa seorang muslim terbukti dengan tercukupinya kebutuhan dan nafkah setiap orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.

2. Berjiwa Tangguh Dan Pantang Menyerah

Di antara pedagang muslim yang membedakannya dari selainnya adalah ketangguhan mental dan jiwanya. Berbagai permasalahan yang melintang di setiap proses perjalanannya tidak menjadikan semangatnya luntur. Kegagalan dan tantangan yang menghiasi langkahnya tidak menjadikannya lemah. Selalu optimis dan menatap masa depan dengan penuh kepercayaan. Semboyannya hanya ada satu “Selama hayat dikandung badan, maka keberhasilan dan rezekinya pastilah mengalir”.semboyan ini diperoleh dari ayat Al-Quran yaitu: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya” (QS. An-Nahl [16]:53)

3. Tawakkal

Keimanan anda sebagai pengusaha Muslim kepada Allah tidak menjadikan bertopang dagu, dan pasrah dengan setiap kenyataan. Keimanan terus mendorong anda berusaha tanpa kenal lelah. Walaupun demikian anda menyerahkan hasil dari usaha keras anda kepada kehendak Allah dan karunia-Nya.
Kamilah yang menentukan mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian lainnya beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lainnya.” (QS. Az-Zukhruf [43]: 32)
betapa indah gambaran Rasulullah SAW tentang tawakkal berikut ini: “Andai engkau bertawakkal kepada Allah dengan sebenarnya, niscaya Allah memberimu rezeki sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung yang di pagi hari meninggalkan sarangnya dan ketika senja hari tiba, ia telah kenyang.” (HR. Ahmad 1/30)
Coba anda cermati burung-burung yang ada disekitar rumah anda. Di pagi hari, adakah burung yang tidak meninggalkan sarangnya? Bila ada, maka dapat dipastikan itu adalah burung yang sakit.
Dengan demikian, tawakkal yang benar tidak menjadikan anda sebagai manusia pemalas. Akan tetapi, tawakkal menjadikan anda dapat menatap hari esok dengan penuh percaya diri tanpa kekawatiran.

4. Berniaga Namun Tidak Lalai Dari Mengingat Allah

Karakter pembeda pengusaha muslim dengan non-muslim adalah senantiasa mengingat Allah, dengan demikian anda senantiasa menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah tanpa terganggu oleh berbagai aktivitas perniagaan anda.
Anda senantiasa sadar bahwa Allah mengetahui setiap perbuatan anda. Dan andapun percaya bahwa setiap ucapan dan perbuatan anda pastilah mendapatkan balasan yang setimpal. Kesadaran ini menjadikan anda waspada dan tidak menghalalkan segala cara dalam mencari keuntungan niaga.
jangan pernah engkau merasa rezekimu telat datang, karena sesungguhnya tiada seorangpun hamba yang mati, hingga telah datang kepadanya rezeki terakhir yang ditentukan untuknya. Maka bertakwalah engkau kepada Allah dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah)
anda berlaku santun dalam menjalankan perniagaan, karena anda beriman bahwa harta kekayaan dunia bukanlah standar keberhasilan baik di dunia atau akhirat. Harta kekayaan adalah titipan dan ujian apakah anda besyukur atau kufur.
Dan ketahuilah bahwa harta benda dan anak keturunanmu hanyalah cobaan, dan sesungguhnya Allah, di sisi-Nya terdapat pahala yang agung.” (QS. Al-Anfal [8]: 28)
Anda percaya bahwa keberhasilan hidup tidaklah diukur dari banyak atau sedikitnya kekayaan anda. Terlalu rendah dan hina bila kesuksesan hidup diukur dengan materi.
Andai dunia beserta seisinya seberat sayap lalat, niscaya Allah tidak pernah memberi kesempatan kepada orang kafir untuk meneguk walau hanya seteguk air minum.” (HR. At-Tirmidzi)

5. Jujur

Syariat islam mengajarkan kepada anda untuk berlaku jujur dalam segala keadaan. Anda berlaku jujur walau secara lahir kejujuran anda dapat menimbulkan kerugian pada diri anda sendiri.
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri, ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah akan lebih tahu kemaslahatannya. Maka jangan engkau ikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah maha mengetahui segala apa yang engkau kerjakan.” (QS. An-Nisa'[4]: 135)
Rasulullah SAW bersabda: “Wahai para pedagang!” spontan mereka menegakkan leher dan pandangan guna memperhatikan seruan Rasulullah, lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya para pedagang kelak pada hari kiamat akan dibangkitkan sebagai orang-orang yang fajir (jahat) kecuali pedagang yang bertaqwa kepada Allah, berbuat baik, dan berlaku jujur.” (HR. At-Tirmidzi)
Al-Qadhy Iyadh R. A. berkata: “Kebiasaan para pedagang adalah menipu dalam perniagaan, dan berambisi untuk menjual barang dagangannya dengan segala cara yang dapat mereka lakukan. Tanpa terkecuali dengan sumpah palsu dan yang serupa. Karenanya nabi Muhammad SAW memvonis mereka sebagai orang-orang jahat. Kecuali pedagang yang senantiasa menghindari hal-hal yang diharamkan, senantiasa memenuhi sumpah dan jujur dalam setiap ucapannya.

6. Senantiasa Memudahkan Orang Lain

Perniagaan dan keuntungan bukanlah cita-cita akhir anda dalam berniaga. Keuntungan hanyalah sarana untuk memudahkan urusan dunia dan akhirat anda. Wajar bila anda selalu bersikap ringan tangan dan rendah hati pada setiap urusan termasuk ketika sedang berniaga.
Dari sahabat Jabir bin Abdillah – Semoga Allah meridhoi keduanya – bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah senantiasa merahmati seseorang yang senantiasa berbuat mudah ketika ia menjual, ketika membeli, dan ketika menagih” (HR. Al-Bukhori)
Sikap anda merupakan cerminan nyata dari keimanan anda, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sesaat, dan selanjutnya anda akan berpindah ke alam akhirat. Karenanya, anda tak pernah lelah untuk menabur benih-benih kehidupan akhirat semasa hidup di dunia fana ini.
Pada suatu hari, rasulullah SAW bercerita,” (Pada hari kiamat kelak) Allah mendatangkan salah seorang hamba-Nya yang pernah dia beri harta kekayaan, kemudian Allah bertanya kepadanya,'Apa yang engkau lakukan di dunia?' (dan mereka tidak dapat menyembunyikannya dari Allah) diapun menjawab,'Wahai tuhanku, Engkau telah memberikanku harta kekayaan, dan aku berjual beli dengan orang lain, dan kebiasaanku adalah senantiasa memudahkan, aku meringankan ( tagihan ) orang yang mampu dan menunda (tagihan kepada) orang yang tidak mampu.'Kemudian Allah berfirman,'Aku lebih berhak untuk melakukan ini daripada engkau, mudahkanlah hamba-Ku ini.'
tidakkah anda menjadi tergiur mendengar kisah rasulullah SAW di atas? Semasa di dunia perniagaan anda berjalan lancar, harta melimpah, dan di akhirat, kekayaan anda mengantarkan anda ke Syurga?

7. Membelanjakan Harta Di Jalan Yang Benar

Manisnya kekayaan mungkin menjadikan anda lalai dan lupa daratan. Betapa tidak, segala yang anda inginkan dapat terwujud dengan mudah dengan kekayaan anda. Betapa sering anda bisa menahan diri dan bersikap bersahaja tatkala kantong anda tipis, namun hal itu begitu berat untuk anda lakukan bila kantong anda tebal.
Keimanan dan keluhuran jiwa andalah yang dapat menahan anda dari bersikap angkuh dan melampaui batas ketika berhasil mencapai kekayaan. Yang demikian itu karena anda sadar bahwa suatu saat nanti kekayaan itu harus anda pertanggungjawabkan, darimana memperolehnya dan kemana anda membelanjakannya.
Kelak pada hari kiamat, tidaklah kedua kaki seorang hamba dapat bergeser hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengannya; tentang hartanya, darimana dan kemana ia membelanjakannya; dan tentang badannya, untuk apa dia gunakan,” (HR. At-Tirmidzi)

semoga paparan singkat singkat ini dapat menggugah semangat dan iman anda untuk memancarkan keimanan dan keluhuran jiwa dalam setiap sikap dan perbuatan anda, terutama saat anda berniaga. Betapa besar pahala yang anda lakukan bila anda berhasil membuktikan bahwa islam adalah agama yang menjunjung tinggi akhlak mulia. Wallahu a'lam
(Basthomi Izza Ashshofi – 22 November 2014)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Google+ Badge

Google+ Badge

Google+ Badge

Google+ Followers

Google+ Followers