Pages

Labels

Senin, 19 November 2012

PROGRAM SWASEMBADA DAGING SAPI & KERBAU 2014



Oleh : Basthomi Izza A (105050100111168)
1.1 PSDSK 2014
Program Swasembada Daging Sapi Kerbau Tahun 2014 (PSDSK-2014) merupakan tekad bersama dan salah satu dari program utama Kementerian Pertanian yang terkait dengan upaya mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik khususnya ternak sapi potong. Swasembada daging sapi sudah lama didambakan oleh masyarakat agar ketergantungan terhadap impor baik sapi bakalan maupun daging semakin menurun dengan mengembangkan potensi dalam negeri (Menteri Pertanian, 2010). Program ini dicetuskan sejak tahun 2000 sampai sekarang mengalami pengunduran target sebanyak 3 kali, PSDSK 2014 sebenarnya merupakan program lanjutan yang telah dicanangkan sebelumya sejak tahun 2001 - 2005. Pada waktu itu, program bernama kecukupan daging sapi. Program tersebut ternyata lebih banyak bersifat rencana dan sama sekali tidak didukung oleh anggaran yang memadai sehingga lebih banyak bersifat wacana. Program swasembada daging sapi dicetuskan lagi menjadi Program Percepatan Pencapaian Swasembada Daging Sapi (P2SDS) 2008 - 2010. Program ini juga gagal mencapai target karena berbagai alasan antara lain kebijakan program yang dirumuskan tidak disertai dengan rencana operasional yang rinci (Trobos, 2010).
Keberhasilan program swasembada daging sapi dan kerbau 2014 akan sangat tergantung kepada semua pihak, mulai dari pemerintahan, sampai seluruh penduduk Indonesia dan berbagai pihak lainnya yang terkait, sehingga bagaimanapun baiknya program yang disusun tidak akan berhasil tanpa partisipasi optimal dari seluruh perangkat yang terkait.
Dengan berswasembada daging Sapi-Kerbau diharapkan mampu:
(1) meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan peternak
(2) penyerapan tambahan tenaga kerja baru
(3) penghematan devisa Negara
(4) optimalisasi pemanfaatan potensi ternak sapi local
(5) semakin meningkatnya peyediaan daging sapi yang  Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH) bagi masyarakat sehingga ketentraman lebih terjamin.

1.2 Potensi Negara Indonesia Dalam Pengembangan Peternakan
Indonesia merupakan daerah tropis yang memiliki curah hujan tinggi sehingga banyak jenis tumbuhan yang dapat hidup dan tumbuh dengan cepat. Indonesia memiliki tanah yang subur dan baik digunakan untuk berbagai jenis tanaman. Indonesia dikenal sebagai negara agraris. memiliki lahan seluas lebih dari 31 juta ha yang telah siap tanam, dimana sebagian besarnya dapat ditemukan di Pulau Jawa. Pertanian di Indonesia menghasilkan berbagai macam tumbuhan komoditi ekspor, antara lain padi, jagung, kedelai, sayur-sayuran, cabai, ubi, dan singkong. Di samping itu, Indonesia juga dikenal dengan hasil perkebunannya, antara lain karet, kelapa sawit, tembakau, kapas, kopi, dan tebu (Wikipedia,2010).
Dilihat dari potensi yang dimiliki Negara Indonesia “Agraris” memiliki potensi yang cukup besar pada bidang perkebunan dan pertanian sdalam membangun sektor Peternakan. Perkebunan dan pertanian penghasil komoditas utama sisa produksi yang tidak bernilai berupa limbah. Limbah tersebur akan memiliki nilai optimal jika dimanfaatkan dengan tepat salah satunya sebagai pakan ternak yang berkualitas. Misalnya tanaman padi, tanaman tersebut menghasilkan produk utama berupa beras, sisanya limbah berupa jerami, sekam, dedak. Limbah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pakan berkualitas untuk ternak sapi, kerbau, kambing, mereka memiliki pencernaan yang bagus dalam memproses serat  pada sistem pencernaannya. Limbah ini hanya sebuah contoh, dan hampir semua limbah pertanian-perkebunan dapat dimanfaatkan sebagai pakan yang bagus untuk ternak Ruminansia. seperti limbah jagung, kelapa sawit, umbi  dan yang lainnya.
Menurut Syamsu (2003) bahwa produksi limbah pertanian di Indonesia sebagai sumber pakan ruminansia adalah 51.546.297,3 ton bahan kering atau 23.151.344,6 ton TDN. Limbah pertanian dapat menyediakan pakan untuk ternak ruminansia sebanyak 14.750.777,1 ST. Dengan populasi ternak ruminansia saat ini 11.995.340 ST sehingga memungkinkan untuk penambahan populasi ternak ruminansia sebesar 2.755.437,1 ST atau 18,68%. Akan tetapi kenyataannya berbeda, potensi besar  ini belum diberdayakan secara optimal. Buktinya Indonesia masih mengimpor daging dan ternak Sapi-Kerbau dari berbagai Negara untuk mencukupi kebutuhan daging di dalam negeri.
1.3 Realitas Kondisi Peternakan Di Indonesia
Pada awal dekade 70-an, hampir separuh output perekonomian nasional tercipta di sektor pertanian. Pangsanya mencapai 45 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Pada saat yang sama, sekitar 67 persen angkatan kerja kita juga menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Kini, setelah empat dekade berlalu, struktur perekonomian nasional telah jauh berubah. Sektor pertanian tak lagi dominan. Di 2011,misalnya, pangsanya tinggal 14,7 persen terhadap PDB, menempati posisi kedua setelah industri pengolahan (24,3 persen). Namun demikian, sektor pertanian tetap menjadi tumpuan hidup bagi sebagian besar angkatan kerja. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sekitar 36,5 persen (41,20 juta orang) dari 112,80 juta penduduk yang bekerja pada Februari 2012 menggantungkan hidupnya di sektor pertanian, baik sebagai petani maupun buruh tani. Artinya, jika bukan karena sektor pertanian, angka pengangguran terbuka di negeri ini dapat dipastikan akan meledak (kopasiana.com 8/12). Jumlah populasi ternak ruminansia dalam kurun waktu 1997-2001 untuk sapi potong, kerbau, kambing dan domba mengalami penurunan/tahun sebesar 1,46%, 6,73%, 2,89% dan 0,55%. Dilain pihak tingkat pemotongan ternak dalam kurun waktu yang sama mengalami peningkatan untuk sapi potong 0,53%, kambing 4,39% dan domba 23,15% per tahun. Namun tingkat pemotongan ternak tersebut tidak diimbangi dengan peningkatan populasi yang dikembangkan, jika masalah ini terus berlanjut dan tidak terkendali berdampak pada pengurasan sumberdaya ternak yang juga menurunkan mutu ternak di masyarakat, karena ternak yang berkualitas baik tidak tersisakan untuk pembibitan. Saat ini kebutuhan daging sapi mencapai 430 ribu ton per tahun. Dari jumlah ini, sebanyak 25 persen atau 100 ribu ton daging berasal dari impor. Konsumsi daging sapi di Indonesia dinilai masih rendah atau sekitar 2 kilogram per kapita selama setahun (Okezone.com, 7/12).  
Penurunan pendapatan dari sektor pertanian dan populasi hewan ternak disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya sebagai berikut:
·         Paradigma masyarakat dan generasi muda berubah : Perkembangan dunia Teknologi dan informasi telah membuat dunia para petani dan peternak beralih pada aktivitas industri dan mulai meninggalkan lahan pertanianya.
·         Menyempitnya lahan pertanian karena pertumbuhan penduduk yang besar, menurut Syamsu (2003) yang dikutip dari Kasryno dan Syafa'at (2000) bahwa sumberdaya alam untuk peternakan berupa padang penggembalaan di Indonesia mengalami penurunan sekitar 30%.
·         Kurangnya perhatian pemerintah dalam mengembangkan dan memfasilitasi kesejaheraan petani, pemerintah lebih memfokuskan pada pembangunan Industri, terlupakan merka lupa bahwa kemajuan dunia industri bukanlah semata-mata disebabkan oleh kerja keras  peindustri melainkan banyak  kontribusi dan sumbangsih yang berarti dari dunia pertanian kepada dunia industri.
·         Ketersediaan hijauan yang dipengaruhi iklim.
·         Minimnya pengetahuan dan modal yang dimiliki petani atau peternak.
Indonesia adalah negara kepulauan dengan 14.000 pulau, Dalam pendataan penduduk oleh Kementerian Dalam Negeri, jumlah penduduk Indonesia terhitung 31 Desember 2010 mencapai 259.940.857 (Kompas.com, 9/11).  Indonesia merupakan pasar utama ekspor daging dan sapi bakalan peternak Australia, dari sini dan Selandia Baru, Indonesia mencukupi kebutuhan daging. Oleh sebab itu timbul sebuah masalah, Negara Indonesia memiliki potensi besar dan pengembangan dalam sektor peternakan khususnya sapi dan kerbau. namun mengapa dalam mencukupi kebutuhan dalam negeri masih mengimpor.
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini merupakan sektor yang belum mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya. Pengetahuan, mahalya biaya, manajemen, pakan mahal. Oleh sebab itu pemerintah mulai menyadari salah satu kelengahan mereka betapa pentingsektor pertanian dan peternakan dalam memicu pertumbuhan perekonomian Negara. Oleh sebab itu program PSDSK mulai digerakkan.
1.4 Upaya Mencapai Swasembada Daging Sapi Dan Kerbau Di Indonesia
Pengembangan industri sapi potong dan kerbau mempunyai prospek yang sangat baik dengan memanfaatkan sumber daya lahan maupun sumber daya pakan (limbah pertanian dan perkebunan) yang tersedia terutama di luar Jawa. Potensi lahan pertanian yang belum dimanfaatkan mencapai 32 juta ha, lahan terlantar 11,50 juta ha, dan lahan pekarangan 5,40 juta ha, belum termasuk lahan gambut dan lebak (Maluyu, 2009). Namun, kenyataan menunjukkan pengembangan sapi potong belum mampu memenuhi kebutuhan daging dalam negeri. Menurut Sumardjo (2012) upaya untuk mewujudkan kesejahteraan sosial peternakan, salah satunya dapat memfasilitasi peternak dengan pelayanan penyuluhan yang memadai dengan tenaga-tenaga yang berkualitas dan professional. Penyuluh yang berpengetahuan, sikap dan ketrampilan tinggi serta berdedikasi sebagai seorang penyuluh social yang bisa merubah perilaku masyarakat untuk lebih mampu berperan serta dalam usaha-usaha kesejahteraan sosial.
Menurut undang-undang nomor 16 tahun 2006 menyatakan bahwa penyuluhan adalah proses pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumberdaya lainnya, sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup . Sistem penyuluhan adalah seluruh rangkaian pengembangan kemampuan, pengetahuan, keterampilan, serta sikap pelaku utama dan pelaku usaha melalui penyuluhan .
Penyuluh mampu mengatasi permasalahan peternak,karena para peternak lebih menitikkan pada logika dan bukti, hendaknya Penyuluh memberikan bukti nyata mengenai keberhasilan praktik materi yang disampaikan, kemudian melakukan pendampinyan kepada petani dan peternak dalam menerapkan pola sesuai target keberhasilan yang telah dibuktikan. Setelah mereka percaya proses pemberian materi akan lebih mudah karena hasil yang dicapai terbukti memberikan hasil optimal dengan pengeluaran minimal. Kemudian untuk memotivasi mereka untuk lebih semangat dan competetif, dapat diberikan penghargaan bagi peternak yang memiliki hasil optimal terbaik. Selama proses penyuluhan peternakan dibutuhkan penyamaan persepsi, visi, misi bersama para pelaku agribisnis. Penyuluhan yang diberikan kepada peternak tidak cukup, tetapi para peaku perusahaan agribisnis dan jasa penunjang yang tekait juga butuh penyuluhan, jika hal ini berhasil akan mempermudah proses antar semua pelaku yang terkait dan terhindar dari permainan pasar atau yang lainnya. 
Penyuluhan memudahkan peternak untuk adopsi dan difusi inovasi dengan metode yang tepat & efektif akan mempermudah untuk dipahami oleh petani. penyuluhan selalu ada unsur komunikasi, dengan komunikasi peternakan, suatu pernyataan antar manusia yang berkaitan dengan kegiatan di bidang peternakan baik secara perorangan maupun kelompok, yang sifatnya umum dapat berjalan lancar. dalam penyuluhan perlu adanya materi yang perlu disiapkan dan penyampaian yang sistematis . Materi penyuluhan pertanian biasanya berupa inovasi-inovasi di bidang pertanian. Agar pesan inovasi tersebut dapat diterima dan diaplikasikan oleh target sasaran maka diperlukan metode penyuluhan.
Dari beberapa penelitian terungkap bahwa dalam program pembangunan pertanian terdapat sejumlah petani yang hanya mengadopsi komponen-komponen tertentu dari paket teknologi yang direkomendasikan, bahkan ada indikasi bahwa sebagian petani yang semula telah melaksanakan paket teknologi kemudian kembali lagi pada teknologi usahatani lama. Gejala tersebut dapat menghambat upaya pelembagaan teknologi pertanian pada kelompok-kelompok sasaran . Di samping lingkungan fisik. ada lima faktor yang mempengaruhi sikap petani dalam mengadopsiperubahan teknologi, yakni a) keuntungan nilai tambah relatif bila teknologi itu diadopsi, b)kecocokan teknologi dengan sosial budaya setempat, c) hasil pengamatan petani terhadappetani lain yang sedang atau telah mencoba teknologi itu sebagai dasar peletakankepercayaan, d) mencoba sendiri akan keberhasilan teknologi barn dan e) kondisi ekonomi yang ada seperti ketersediaan modal, bagaimana konsekuensi kenaikan produksi terhadap harga produk.
Penyuluh menjembatani dalam penyampaian dan praktik informasi terbaru mengenai permasalahan dan solusi yang dihadapi masyarakat seperti; teknis peni ngkatan mutu kualitas pakan, akses Permodalan. Kemudian setiap materi yang akan disampaikan penyuluh minimal searah dengan upaya mengatasi kendala dan masalah yang dihadapi peternak. Setiap setelah dilakukan proses penyuluhan, tim penyuluh melakukan evaluasi mengenai hasil materi yang telah disampaikan, untuk memastikan pesan yang disampaikan sesuai dengan Peternak jika dalam kebijakan pemerintah tidak mendukung, misalnya Kebijakan impor yang sarat dengan kepentingan pemodal kuat telah menyebabkan harga-harga produk lokal jatuh dan kalah bersaing. Hal ini terjadi pada kasus daging impor yang jumlahnya ratus ribu ton per tahun yang telah menyebabkan tersisihnya produk lokal. Oleh sebab itu peran pemerintah tidak bias terlepas dalam mensejahterakan Rakyat Indonesia. Pemerintah patut membuat berbagai kebijakan yang searah dan focus pada sebuah visi misi tujuan.. Agar Program PSDSK 2014 dapat berjalan lancar. Karena bagaimanapun kerja keras kelembagaan penyuluhan meningkatkan   produktifitas masyarakat, apabila kemudian ketika produk masyarakat jatuh dan membuat masyarakat sebagai produsen merugi, maka motivasi kerja masyarakat pun melemah dan bahkan meninggalkan usaha produktifnya.
DAFTAR PUSTAKA :
Abdullah, Agustina. 2008. Peranan Penyuluhan Dan Kelompok Tani Ternak Untuk Meningkatkan Adopsi Teknologi Dalam Peternakan Sapi Potong. Prosiding Seminar Nasionat Sapi Potong-Palu, 24 November 2008 hlm:188-196
Peraturan Menteri Pertanian. 2010. Pedoman Umum Program Swasembada Daging Sapi 2014. Hal (4).
Daryanto, Arief. 2011.. Dinamika PSDS 2014. Majalah Trobos edisi Maret 2011
Anonimus. 2010. Sumberdaya Alam Indonesia. Wikipedia.com. diakses pada 17 Nopember 2012.

Ferdiansyah, Ferry. 2012. Menuju Swasembada Daging. Okezone.com, 7/12 diakses pada 17 Nopember 2012.

Ruslan, Kadir. 2012. Sensus Pertanian 2013: “Untuk Masa Depan Petani yang Lebih Baik”. Kopasiana.com 8/12. Diakses pada 17 Nopember 2012

Syamsu, Jamal A., Sofyan, Lily A., dan Sa’id, E. Gumbira. 2003. Daya Dukung Limbah Pertanian Sebagai Sumber Pakan Ternak Ruminansia Di Indonesia. WARTAZOA Vol. 13 No.1 Th. 2003. Hlm: 30-37.
Susilo, Nina. 2011. Jumlah Penduduk Indonesia 259 Juta. Kompas.com, 9/11. diakses pada 17 Nopember 2012.

0 komentar:

Posting Komentar